Setelah dg negosiasi yg menggiurkan buat Nate, bahwa dia boleh membuka semua birthday presents nya kl mau menemani aku nonton Laskar Pelangi, akhirnya kesampaian juga kemarin sore aku nonton Laskar Pelangi, di Puri Indah 21, deket rumah. Begini nasib kalo gak punya temen nonton bioskop, jadi mendaya-upayakan segala akal supaya anak tunggalku itu setuju.
Sudah banyak komentar yang aku dengar dan baca, baik dari temen-temen yang sudah nonton, baik dari www.kickandy.com dimana awal dari perjalanan panjang Laskar Pelangi menjadi begitu terkenal di Indonesia. Banyak komentar-komentar yang memuja bahwa film Laskar Pelangi adalah film yang patut ditonton, namun lebih banyak lagi komentar pedas yang mengatakan bahwa banyak bagian-bagian yang missing, gak dapat soulnya, beda banget sama bukunya, de es te de es be.
Aku sendiri sudah memiliki buku itu sejak september tahun 2007, membeli karena iseng, tertarik, apa sih istimewanya buku itu, sampai dicetak ulang dan ulang, sampai Andrea Hirata menjadi begitu terkenal dg buku yang bahkan tidak pernah ia rencanakan akan dibaca jutaan orang dan dibicarakan dimana-mana. Aku membelinya, trilogy sekaligus, karena buku terakhir belum publish.
Waktu aku mulai membacanya, wah sayang sekali, sampulnya bagus, kok kertasnya kurang baik… tapi ya membeli buku Rp 45.000,00 satu, ngapain protes.. salah sendiri kok mau beli.. gitu gumamku.
Lembar demi lembar aku baca, dan dalam waktu 1 minggu, ketiga buku itu habis aku baca. Menarik isinya, tidak membosankan dibaca.. dan banyak pesan moral didalamnya. Tapi jujur saja, isinya gak terlalu menghebohkan, begitu menurutku.
Ketika ribut-ribut filmnya mau dibuat, aku sendiri tidak pernah punya minat untuk menontonnya, apalagi antri tiket berbaris-baris. Ah.. bentar lagi juga di TV diputer.. hahahah.. (dasar seneng yang gratis..)
Hingga akhirnya, salah satu partnerku yang ibu rumah tangga banget deh tipenya, tiga hari yang lalu bilang, “Rik,sudah nonton Laskar Pelangi belum Rik? nontonlah Rik, bagus.. cicik sampai nangis nontonnya.”
Aku cuma ketawa-tawa aja.. hah.. masa sampai nangis cik? wah.. hihii aku sih sudah punya bukunya.. nontonnya nanti nanti aja deh…
Eh ternyata setelah ngobrol dg dia, kok fikiranku kok terganggu ya.. Kepengen banget nonton film tersebut. Hari Minggu kemarin, aku tanya Nate :
Mummy : “Nate, temenin Mummy nonton yuk”
Nate : “Nonton apa? Kartun apa non kartun?”
Mummy : “Laskar Pelangi.Bukan kartun sih.. tapi film anak-anak”
Nate : “Hm… English or Indonesian?”
Hah.. is that important Nate? hahahha
Mummy : “indonesia sih.. tapi bagus Nate.. temen mummy
pada bilang gitu.”
Nate : “Gak ah.. pasti boring..Aku di rumah aja ah, mau buka presents.” (Sok tau, sok sibuk)
Aha.. akalku jalan.. hihih jadi kusembunyiin tuh kado-kado ultah di mobil dan kuncinya aku umpetin. (nah abis itu aku lupa deh naruh dimana.. dan waktu mau pergi, cari-cari deh). Dia bolak balik gelisah, tapi gak berani tanya.. pasti tau aku umpetin.. hihi
Selasa pagi, terjadi percakapan lagi (setelah bener-bener niat)..
Mummy : “Nate, ntar kan gak les, temenin mummy nonton
ya …”
Nate : “Laskar Pelangi? ask daddy aja deh.. Kalu daddy
mau, aku mau..”
wah dia gak mau judulnya..
Mummy : “Nate, remember the birthday presents?”
Nate : “dimanaaaaaaaaa?”
Mummy : “I’ll promise you, after Laskar Pelangi, you’ll get the birthday presents, ockay”"
Nate : “How long the movie mummy?”
Mummy : “only 1 and a half hour”
Nate : “kayak les mandarin ya..”
Mummy : “He eh.. gak lama kan?”
Nate : “ockayy…”
Pulang sekolah, setelah makan, mandi dan bikin PR sebentar, aku dan Nate pergi nonton deh.. dengan syarat, pop corn dan hot dog harus ada. No problemlah Nate, yang penting jangan ngajak pulang di tengah-tengah nonton ya… hehe
Ketika aku punya rencana menontonnya, aku sudah menyiapkan hatiku, supaya gak membanding-bandingan filmnya dengan buku nya. Supaya aku bisa benar-benar menikmati setiap scene-scene filmnya. Bukan repot sendiri dg pertanyaan “yah kok gak ada ini ya.. ya kok cuma begitu doang ya.. lho kok beda ya..” heheh.. Aku mau jadi penonton yang relax, enjoy dan smart.. Sudah bayar tiket, sudah bujuk-bujuk Nate, kok malah capek mikir…Oke aku sudah baca bukunya.. tapi ini kan film bukan buku.. gitu lho..
Semua perasaanku keluar silih berganti, sedih, haru, bangga, seneng dan geregetan.. Mira Lesmana dan Riri Reza begitu piawai mengolah perasaan penonton sedemikian rupa. Kebetulan aku satu bioskop dengan penonton-penonton yang punya spirit yang sama dg aku. Mau enjoy, relax dan smart. Jadi suasananya gak kayak nonton bioskop malah.. tapi kayak nonton Live Show haha..
Riri Reza dan Mira Lesmana terbukti sukses menghasilkan sebuah karya seni yang patut diancungi 10 jempol.. Dalam pemilihan bintang-bintangnya pun pas. Dari karakter Ikal, Lintang, Harun, Mahar, Zahara, bu Mus, pak Harfan sampai Aling dan bapaknya Aling.. wow.. Anak-anak itu berakting dengan sangat naturalnya, padahal mereka gak pernah belajar akting sebelumnya. Mereka diasah oleh alam.
Penuangan ceritanya pun apik, kita disuguhkan gambar-gambar yang realistis, walaupun settingnya di plot pada era tahun 70an, di sebuah pulau kecil yang terpencil saat itu.
Film itu bicara banyak, tidak hanya sekedar persahabatan dan impian. Namun juga ketulusan memberi, melayani, dan kekuatan cinta. Scene yang paling berkesan buat aku, adalah ketika Lintang yang jenius harus mengorbankan sekolahnya demi adik-adiknya sepeninggal ayahnya
Dan, kalau partnerku menangis pada waktu menonton film itu. Aku menangis 3 kali. Sesuatu yang sulit diterima oleh akal sehatku. hhaha.
Dan hari ini, aku kena demam Laskar Pelangi.. hahahhaha gawatnya..
Ini tipsku supaya bisa sukses menonton film Laskar Pelangi :
1. Nonton film Laskar Pelangi dan baca buku nya bukan hanya trend, dan gaya hidup (spy gak dibilang kuper ama temen-temen..).
2. Jangan sibuk sendiri membanding-bandingkan buku dan filmnya bagi yg sudah membacanya.. Ingat baik-baik, filmnya adalah karya seni, dan buku Laskar Pelangi adalah sebuah karya sastra.. jadi jangan kreatif sendiri membanding-bandingkan.
3. Baiknya siapkan hati, siapkan waktu, matikan HP, dan nikmati setiap scene demi scene nya..
4. Dan bila anda juga harus meneteskan air mata (seperti saya) kenapa harus malu, pura-pura kelilipan.. atau menggaruk kening yang tidak gatal.. Seharusnya malah bangga, berarti anda masih punya hati..
Salam Hangat,
Fedrika Theresia